Tak pernah terpikir olehku Tak sedikitpun ku bayangkan Kau akan pergi tinggalkan kusendiri
Begitu sulit kubayangkan Begitu sakit ku rasakan Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
Dibawah batu nisan kini Kau tlah sandarkan Kasih sayang kamu begitu dalam sungguh ku tak sanggup Ini terjadi karna ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu Jatuh air mataku menangis pilu Hanya mampu ucapkan Selamat jalan kasih
Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu… di hatiku Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup di nanti ku……
mungkin kau bertanya-tanya arti perhatianku terhadapmu pasti kau menerka-nerka apa yang tersirat dalam gerakku
aku lah serpihan kisah masa lalumu yang sekedar ingin tau keadaan mu
Reff: tak pernah aku bermaksud mengusikmu mengganggu setiap ketentraman hidupmu hanya tak mudah bagiku lupakan mu dan pergi menjauh
beri sedikit waktu agar ku terbiasa bernafas tanpamu ooooohhh…
hoooo…hooo….2x
teruntuk dirimu dengarkan lah…
back to reff.
Lyla – Detik Terakhir Lirik Lyla – Detik Terakhir Lyrics
Usap air matamu Dekap erat tubuhku Tatap aku sepuas hatimu
Nikmati detik demi detik yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi Hirup aroma tubuhku yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu Gundahmu…
Nyanyikan lagu indah Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali Nyanyikan lagu indah Tuk melepasku pergi dan tak kembali
Nikmati detik demi detik yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi Hirup aroma tubuhku yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu Gundahmu…
Nyanyikan lagu indah Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali Nyanyikan lagu indah Tuk melepasku pergi dan tak kembali
Nyanyikan lagu indah Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali Nyanyikan lagu indah Tuk melepasku pergi … Ku pergi… Nyanyikan lagu indah Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali (Mungkinkah aku kembali) Nyanyikan lagu indah Tuk melepasku pergi dan tak kembali
Minggu, 25 April 2010
Biodata Alvin Nama lengkap: Alvin JonathanSidunata Nama panggilan: Alvin Tanggal lahir: 20 September 1998. Sekolah: SMP Kalam Kudus Malang (kelas 1) Latar belakang: Anank piatu, sering nyanyi untuk pelayanan dan konser di gereja Hobi: maen futsal, nyanyi n maen PS
Jumat, 19 Februari 2010
LILYANA NATSIR
Di usia 12 dia meninggalkan rumah sebagai pemula. Di usia 21 dia kembali ke rumah sebagai jutawan. Di usia 12 dia memutuskan meninggalkan sekolah. Di usia 21 dia salah satu pemain bulu tangkis terbaik Indonesia–ganda campuran adalah spesialisasinya. Di kancah internasional, Lilyana Natsir menempati peringkat kedua dunia untuk ganda campuran.
Sembilan tahun Lilyana “menukarkan” hidupnya dengan bulu tangkis. Sembilan tahun bulu tangkis menjadikan dia bintang yang naik-turun podium kehormatan. “Orang tua saya menghargai keputusan saya meninggalkan sekolah. Syaratnya harus serius,” ujarnya kepada Tempo.
Gadis asal Manado itu mematuhi syarat orang tuanya, Beno Natsir dan Olly Maramis. Hasilnya? Sepanjang kurun 2000-2001, dia memenangi berbagai kejuaraan di tingkat nasional nomor ganda putri. Dia menjadi finalis Singapura Terbuka pada 2004 dan Swiss Terbuka 2005 serta semifinalis All England 2005.
Bersama pasangannya, Nova Widhianto, Lilyana menjuarai Indonesia Terbuka 2005, SEA Games 2005, dan Asian Badminton Championship 2006. Tak diunggulkan pada Kejuaraan Dunia di Anaheim, Amerika Serikat, pada 2005, Lilyana-Nova membawa pulang gelar juara.
“Terharu dan bangga bisa ngasih emas buat negara,” ujarnya kepada Tempo. Seusai dia berlaga, Beno dan Olly meneleponnya, menyatakan betapa bangga keduanya kepada putri kecil mereka.
Saat ke Amerika, dia satu-satunya atlet putri dalam kontingen bulu tangkis Indonesia. Toh, Lilyana tidak jengah. Gadis belia ini amat tomboi dalam penampilan sehari-hari. Rambutnya pendek, dicat merah. Lemari bajunya dipenuhi kaus dan jins. Harum parfum Calvin Klein yang masih menunjukkan identitas kewanitaannya.
Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 September 1985, Lilyana datang dari keluarga pencinta bulu tangkis. Di waktu senggang, dia bersama ibu dan pembantunya kerap mengisi waktu dengan bermain badminton di depan rumah. Melihat bakat dalam diri si putri bungsu, orang tuanya mendaftarkan dia ke klub PB Pisok di Manado.
Pada 1997, dia hijrah ke klub PB Tangkas di Jakarta. Usianya 12 tahun ketika itu. Bagi seorang gadis kecil, sendirian dan jauh dari keluarga ibarat prahara. Tiap malam, Lilyana kenyang menangis. Kerap dia tergoda untuk menyerah dan kembali ke Manado.
Kala itu, Lilyana menjadi atlet paling kecil di klub. Para seniornya di klub, yang kebanyakan dari suku Batak, memanggilnya dengan nama kesayangan Butet.
Genap setahun merantau, Butet pulang ke Manado untuk berlibur. Suasana rumah yang hangat membuatnya enggan kembali ke Jakarta. Tapi ibunya dengan tegas melarang. “Mereka bilang sudah kepalang tanggung,” Butet menirukan ucapan kedua orang tuanya.
Kerja keras gadis kecil itu tidak sia-sia. Dia dipanggil masuk pemusatan latihan nasional (pelatnas) pada 2002. Tujuh jam tiap hari Butet berlatih di hall bulu tangkis Cipayung. Dan mencatatkan prestasi demi prestasi.
Olahraga bulu tangkis mengalirkan penghasilan jumbo untuk Butet. Rekening pribadinya berisi hingga miliaran rupiah. Kontrak per tiga bulannya di pelatnas saja mencapai Rp 100 juta. Kakaknya, Kalista Natsir, seorang dokter, sempat “iri”. Dan siapa yang tidak?
Di usia semuda itu, dengan modal pendidikan hanya sekolah dasar, Butet mampu membeli mobil Nissan X-Trail. Dua pekan lalu, dia mendapat satu mobil Yaris sebagai bonus prestasi. Nona Manado ini berniat membeli sebuah rumah di Cibubur. “Penghasilanku lebih dari cukup,” ujarnya.
Semua ini harus dibayar mahal dengan latihan ketat setiap hari yang kerap membosankan. Butet memupus rasa bosan dengan nonton film, jalan-jalan ke mal, atau makan di luar bersama kawan-kawannya.
Sesekali dia mengisi akhir pekannya dengan dugem atau bermain biliar. Ditemani secangkir kopi, Lilyana betah berjam-jam menyodok bola biliar. Dia juga gemar bermain game di komputer atau menonton televisi di kamarnya yang berukuran 4 x 4 meter persegi.
Liburan panjang dan Natal adalah saat yang amat dia nantikan. Butet pasti pulang kampung. Semua masakan Manado dilalapnya, termasuk sup tikus hutan. Dia menyimpan cita-cita menjadi seorang pelatih. Tapi memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
“Sudah terlalu banyak ketinggalan kalau harus mulai dari awal,” ujarnya. Dia menukarkan pendidikannya untuk bulu tangkis. Boleh jadi, tidak sia-sia: bulu tangkis membawa Lilyana Natsir menjelajahi dunia jauh sebelum usia 21.
Senin, 15 Februari 2010
Takkan pernah meyakinkan Cinta diungkapkan dengan lisan Sebab cinta adalah bunga-bunga perasaan Hanya sikap yang berhak menjelaskan
Cinta begitu indah hiasi taman hati Seperti tulip, mawar dan melati Perindah kebun dengan irama harmoni Harmoni sukacita, gembira dan bahagia Yang mengunjungi nurani silih berganti Kelembutan cinta Usap jiwa pecinta dari setiap peluh Seka tetes-tetes kesedihan yang melahirkan keluh Lalu membawanya ke tempat teduh Jauh dari bising prahara dan nestapa
Suara merdu, untuk didengarkan Panorama elok, untuk dilihatkan Sedang cinta sejati, untuk dirasakan Oleh hati yang murni Bersih dari nafsu dan berahi
Cinta adalah kasih sayang yang tersaji Seolah kekasih akan meninggal esok hari Tak ada insan yang mampu lakukan ini Sebelum hati kecilnya menjadi suci Bersih dari kerak-kerak keangkuhan hatiTakkan pernah meyakinkan Cinta diungkapkan dengan lisan Sebab cinta adalah bunga-bunga perasaan Hanya sikap yang berhak menjelaskan
Disebut cinta… Jika tangismu lebih keras dari kekasih Ketika jiwanya diterjang sedih Jangan pernah hadirkan cinta dengan paksa Karena ia laksana benih tanaman Hanya akan tumbuh pada tanah pilihan Maka taburkanlah benih cinta di ladang kesucian jiwa Lalu siramlah dengan air kasih sayang Agar tumbuh dan mekar ceria......